RANGKUMAN MATERI BAB VI: PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN PENDEKATAN TAKTIK

A.      A.   Pendahuluan
Tujuan dari bab ini adalah mendeskripsikan komponen-komponen atau aspek-aspek permainan yang perlu dipertimbangkan ketika memilih dan mendisain penilaian siswa. Maksudnya bukan untuk menjelaskan bagaimana cara menilai, karena banyak sumber tersedia untuk mengetahui bagaimana cara menilai siswa, tetapi lebih pada mendiskusikan tentang pentingnya penilaian dan beberapa isu yang terkait dengan metode tradisional untuk menilai keterampilan.

  1. Pentingnya Penilaian
Dr. Deborah Tannehill, salah satu penulis Standarts for Physical Education yang digunakan di Amerika Serikat dan koordinator National Association of Sport and Physical Education Assessment Series, menyatakan bahwa “Jika mengajar dan belajar itu penting, penilaian juga sama pentingnya.” Menurut Tannehill, para guru perlu mengatakan kepada siswa apa yang akan mereka pelajari dan mengapa hal itu penting. Ajarkan kepada mereka apa yang telah kita katakan, yang akan mereka pelajari, yang akan mereka praktekkan, kemudian beri mereka penilaian.
JIka kita menginginkan siswa belajar bagaimana memainkan permainan, kita harus menilai penampilan bermain mereka. Sayangnya, kebanyakan yang kita tahu mengenai penilaian adalah dalam bentuk tes kemampuan/keterampilan, yang hanya mengukur satu komponen dari permainan. Oleh karena itu, biasanya ada beberapa pertanyaan dari siswa ketika melakukan latihan keterampilan dan tes keterampilan: Mengapa kita melakukannya? Hal ini menunjukkan tidak adanya koneksi antara apa yang sedang mereka lakukan dan apa yang guru inginkan untuk mereka pelajari atau mereka lakukan.
Jadi, “Jika kita menginginkan siswa belajar bagaimana memainkan permainan, kita harus menilai penampilan bermain mereka.”

  1. Masalah dengan Penilaian
Sebagian besar kesulitan dalam mengubah pengajaran dan penilaian kita dari pendekatan teknis atau yang berbasis keterampilan menjadi pendekatan Pembelajaran Pendekatan Taktik. Hal ini sebagian besar berkaitan dengan perbandingan jumlah keterampilan olahraga yang ingin kita ajarkan kepada siswa dengan minimnya waktu yang ada di setiap pertemuan dalam satu minggu.
Masalah lain, dalam mengubah pengajaran guru berhubungan dengan bentuk permainan yang kita harapkan untuk siswa pelajari. Kebanyakan dari pengajaran sekarang ini mengembangkan pemikiran bahwa pendidikan jasmani merupakan sebuah “pembantu” atau kamp pelatihan bagi tim atletik sekolah. Jika tujuan kita dalam pendidikan jasmani adalah untuk mengembangkan partisipasi seumur hidup, kita perlu mempertimbangkan kembali jenis permainan dan aktivitas yang kita yakini untuk menjadi yang terbaik bagi siswa kita untuk dipelajari.

  1. Pengembangan Keterampilan Permainan
Pembelajaran Pendekatan Taktik meletakkan keterampilan di dalam konteks permainan, dimana konteks ini dibentuk dan dibentuk kembali berdasarkan jumlah factor yang berhubungan dengan permainan atau tugas, siswa, dan konteksnya.
Permainan merupakan titik focus dari Pembelajaran Pendekatan Taktik, maka kita perlu melihat tentang permainan, sifat permainan, atau keduanya, untuk memahami dengan lebih baik tidak hanya pada bagaimana cara mengajarkan permainan tetapi juga bagaimana cara menilai mereka. Penerapannya, misalnya dalam olahraga voli tentang passing menggunakan lengan bawah. Setelah guru mereviu elemen-elemen penting dari keterampilan, siswa kemudian melakukan prakteknya. Agar latihan ini dapat berlangsung dengan baik, siswa harus memperhatikan detail-detail yang sudah dijelaskan oleh guru dan dilaksanakan dalam praktiknya.
Untuk mengembangkan kemahiran para siswa, para guru perlu memilih atau mendisain tugas, permainan, dan penilaian yang memerlukan bentuk yang sama dari gerakan yang diperlukan untuk suksesnya permainan.

  1. Pertimbangan Elemen-elemen Kontekstual
Di luar elemen-elemen penampilan bermain, guru perlu juga mempertimbangkan elemen-elemen kontekstual karena hal ini dapat membuat penilaian penampilan bermain menjadi sulit. Pertama, permainan terstruktur secara sosial. Orang banyak merekonstruksi permainan yang unggul dalam masyarakat kita, dan ketika yang lain memainkannya, mereka memodifikasi peralatan dan aturan untuk mengakomodasi karakteristik dan minat mereka.
Permainan bersifat kompetitif dalam perencanaanya. Hal ini melibatkan suatu persaingan kemampuan kognitif, seperti maneuver taktik, yang sama pentingnya seperti kemampuan fisik atau keberanian. Dalam permainan, taktik dan strategi adalah elemen penting. Kesadaran taktik dalam memberikan keuntungan bagi siswa, bahkan yang mempunyai keterampilan yang lebih dibandingkan yang lain.
Permainan bersifat interaktif. Interaksi muncul dengan rekan satu tim, lawan, penyelenggara, dan bahkan kadang-kadang penonton. Interaksi ini mempunyai dampak baik bagi keterampilan dan penampilan bermain.
Permainan diatur oleh peraturan-peraturan. Peraturan tidak hanya mengatur permainan, tetapi juga menentukan atau menjelaskan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memainkan permainan. Kita seringkali hanya menyadari fungsi regulator dari sebuah peraturan, tetapi peraturan berfungsi lebih dari itu. Dengan begitu, peraturan permainan tidak hanya mengatur permainan, dimensi lapangan, ukuran bola, dan lain-lain, tetapi juga menentukan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memainkan permainan.

  1. Kelas Sama Permainan Berbeda
Dalam kelas-kelas pendidikan jasmani, permainan yang sama seringkali diinterpretasikan dengan berbeda oleh beberapa kelompok anak-anak. Misalnya saja dalam pelajaran siswa memainkan permainan basket dengan cara yang berbeda. Di satu lapangan, pemain memulai kembali permainan dari tengah lapangan, melakukan pelanggaran, dan focus pada operan. Sedangkan di lapangan lainnya, pemain memulai kembali permainan dari base line, tidak melakukan pelanggaran, dan focus pada teknik dribel. Sebagai guru olahraga yang mengamati permainan ini, mengakomodasi sasaran atau tujuan pelajaran, dan kemudian, jika perlu, kita mengubah atau menambahkan kondisi-kondisi tertentu untuk membantu para siswa mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Metode Penilaian Formal
Selain metode informal, ada metode formal dalam penilaian, baik untuk penampilan individual maupun tim, misalnya Game Performance Assessment Instrument (GPAI) dan Team Sport Assessment Procedure (TSAP).
GPAI terdiri dari tujuh komponen utama, meliputi semua kategori permainan (invasi, net/wall, striking/fielding, dan target).
Komponen GPAI dalam Permainan Striking/Fielding
a) Base: Kembalinya pemain yang sesuai pada posisi “home” atau “recovery” antara usaha                         keterampilan
b) Adjust: Pergerakan pemain, baik ofensif atau defensif, sesuai jalannya permainan
c) Pengambilan keputusan : Membuat pilihan yang tepat tentang apa yang dilakukan terhadap bola selama permainan
d)  Eksekusi keterampilan :Penampilan yang efisien dari keterampilan yang dipilih
e)  Support : Pergerakan off the ball pada posisis menerima lemparan
f)   Cover : Dukungan defensive pada pemain dengan hati-hati, atau memggerakkan bola
g)  Guard/Mark : Menjaga lawan yang memegang atau tidak memegang bola
Rumus Kalkulasi Variabel Hasil GPAI
a)  Keikutsertaan dalam permainan : (Total respon yang sesuai) + (jumlah eksekusi keterampilan yang efisien) + (jumlah eksekusi keterampilan yang tidak efisien) + (jumlah pengambilan keputusan yang tidak sesuai)
b)  Index pengambilan keputusan/ DMI : (Jumlah pengambilan keputusan yang sesuai) : (jumlah pengambilan keputusan yang tidak sesuai)
c)  Indeks eksekusi keterampilan/ SEI : (Jumlah eksekusi keterampilan yang efisien) : (jumlah eksekusi keterampilan yang tidak efisien)
d)   Indeks dukungan/SI : (Jumlah gerakan pendukung yang sesuai) : (jumlah gerakan pendukung yang tidak sesuai)
e)   Penampilan bermain : (DMI + SEI + SI) : 3

TSAP berfokus pada dua aspek fundamental dalam permainan: (1) Perolehan kepemilikan bola, dan (2) Menempatkan bola segera setelah pemain menguasai bola.
Komponen-komponen TSAP dalam Permainan
a)      Mendapatkan kepemilikan bola               
1) Merebut bola/CB : Memotong, mencuri bola dari lawan atau menangkap bola kembali setelah tembakan ke gawang tidak berhasil atau hampir kalah dari lawan
2)  Menerima bola/RB : Menerima bola dari rekan satu tim dan tidak kehilangan kontrol bola seketika
b)      Menempatkan bola
1) Memainkan bola netral/NB : Mengoper bola pada rekan satu tim, atau operan yang tidak berisiko bagi tim lain
2) Kehilangan bola/LB : Tim lawan merebut bola tanpa mencetak gol
3) Memainkan bola ofensif/OB : Mengoper bola pada rekan satu tim untuk menekan tim lain
4) Mengeksekusi tembakan yang sukses/SS : Mencetak skor atau menjaga kepemilikan bola yang diikuti eksekusi tembakan

Rumus Perhitungan Variabel Hasil TSAP
a) Jumlah bola yang ditembakkan/AB : (Jumlah total OB) + (jumlah total SS)
b) Volume permainan/PB: (Jumlah total CB) + (jumlah total RB)
c)  Index Efisiensi/EI: (CB + AB) : (10 + LB) atau (CB + OB + SS) : (10 + LB)
d)  Skor penampilan/PS: Ditentukan via “nomogram” yang menggunakan skala EI, skala VP, skala PS

  1. Rangkuman

Pengukuran formal dikombinasikan dengan pengukuran informal, memberikan penilaian yang berkelanjutan dan dapat membantu guru dalam memberikan pesan yang jelas bahwa tujuan dari pengajaran pendidikan jasmani adalah untuk meningkatkan penampilan bermain siswa. Guru pendidikan jasmani adalah “arsitek” dari desain pembelajaran. Mereka harus menciptakan permainan dan penilaian yang terkondisikan yang memacu keterampilan dan kompetensi yang perlu siswa pelajari agar menjadi pemain permainan yang sukses. Peran penilaian dalam Pembelajaran Pendekatan Taktik adalah bahwa penilaian memastikan bahwa siswa dapat mengembangkan kemahiran dan kompetensi serta kepercayaan diri yang perlu untuk dapat memainkan permainan-permainan yang merupakan pembelajaran yang berharga dan permainan yang berharga jauh setelah siswa selesai mengikuti program pendidikan jasmani. 

Komentar

Postingan Populer