RANGKUMAN MATERI BAB VI: PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN
PENDEKATAN TAKTIK
A. A. Pendahuluan
Tujuan dari bab ini adalah mendeskripsikan komponen-komponen
atau aspek-aspek permainan yang perlu dipertimbangkan ketika memilih dan
mendisain penilaian siswa. Maksudnya bukan untuk menjelaskan bagaimana cara
menilai, karena banyak sumber tersedia untuk mengetahui bagaimana cara menilai
siswa, tetapi lebih pada mendiskusikan tentang pentingnya penilaian dan
beberapa isu yang terkait dengan metode tradisional untuk menilai keterampilan.
- Pentingnya Penilaian
Dr. Deborah Tannehill, salah satu penulis Standarts for
Physical Education yang digunakan di Amerika Serikat dan koordinator National
Association of Sport and Physical Education Assessment Series, menyatakan bahwa
“Jika mengajar dan belajar itu penting, penilaian juga sama pentingnya.”
Menurut Tannehill, para guru perlu mengatakan kepada siswa apa yang akan mereka
pelajari dan mengapa hal itu penting. Ajarkan kepada mereka apa yang telah kita
katakan, yang akan mereka pelajari, yang akan mereka praktekkan, kemudian beri
mereka penilaian.
JIka kita menginginkan siswa belajar bagaimana memainkan
permainan, kita harus menilai penampilan bermain mereka. Sayangnya, kebanyakan
yang kita tahu mengenai penilaian adalah dalam bentuk tes
kemampuan/keterampilan, yang hanya mengukur satu komponen dari permainan. Oleh
karena itu, biasanya ada beberapa pertanyaan dari siswa ketika melakukan
latihan keterampilan dan tes keterampilan: Mengapa kita melakukannya? Hal ini
menunjukkan tidak adanya koneksi antara apa yang sedang mereka lakukan dan apa
yang guru inginkan untuk mereka pelajari atau mereka lakukan.
Jadi, “Jika kita menginginkan siswa belajar bagaimana
memainkan permainan, kita harus menilai penampilan bermain mereka.”
- Masalah dengan Penilaian
Sebagian besar kesulitan dalam mengubah pengajaran dan
penilaian kita dari pendekatan teknis atau yang berbasis keterampilan menjadi
pendekatan Pembelajaran Pendekatan Taktik. Hal ini sebagian besar berkaitan
dengan perbandingan jumlah keterampilan olahraga yang ingin kita ajarkan kepada
siswa dengan minimnya waktu yang ada di setiap pertemuan dalam satu minggu.
Masalah lain, dalam mengubah pengajaran guru berhubungan
dengan bentuk permainan yang kita harapkan untuk siswa pelajari. Kebanyakan
dari pengajaran sekarang ini mengembangkan pemikiran bahwa pendidikan jasmani
merupakan sebuah “pembantu” atau kamp pelatihan bagi tim atletik sekolah. Jika
tujuan kita dalam pendidikan jasmani adalah untuk mengembangkan partisipasi
seumur hidup, kita perlu mempertimbangkan kembali jenis permainan dan aktivitas
yang kita yakini untuk menjadi yang terbaik bagi siswa kita untuk dipelajari.
- Pengembangan Keterampilan Permainan
Pembelajaran Pendekatan Taktik meletakkan keterampilan di
dalam konteks permainan, dimana konteks ini dibentuk dan dibentuk kembali
berdasarkan jumlah factor yang berhubungan dengan permainan atau tugas, siswa,
dan konteksnya.
Permainan merupakan titik focus dari Pembelajaran Pendekatan
Taktik, maka kita perlu melihat tentang permainan, sifat permainan, atau
keduanya, untuk memahami dengan lebih baik tidak hanya pada bagaimana cara
mengajarkan permainan tetapi juga bagaimana cara menilai mereka. Penerapannya,
misalnya dalam olahraga voli tentang passing menggunakan lengan bawah. Setelah
guru mereviu elemen-elemen penting dari keterampilan, siswa kemudian melakukan
prakteknya. Agar latihan ini dapat berlangsung dengan baik, siswa harus
memperhatikan detail-detail yang sudah dijelaskan oleh guru dan dilaksanakan
dalam praktiknya.
Untuk mengembangkan kemahiran para siswa, para guru perlu
memilih atau mendisain tugas, permainan, dan penilaian yang memerlukan bentuk
yang sama dari gerakan yang diperlukan untuk suksesnya permainan.
- Pertimbangan Elemen-elemen Kontekstual
Di luar elemen-elemen penampilan bermain, guru perlu juga
mempertimbangkan elemen-elemen kontekstual karena hal ini dapat membuat
penilaian penampilan bermain menjadi sulit. Pertama, permainan terstruktur
secara sosial. Orang banyak merekonstruksi permainan yang unggul dalam
masyarakat kita, dan ketika yang lain memainkannya, mereka memodifikasi
peralatan dan aturan untuk mengakomodasi karakteristik dan minat mereka.
Permainan bersifat kompetitif dalam perencanaanya. Hal ini
melibatkan suatu persaingan kemampuan kognitif, seperti maneuver taktik, yang
sama pentingnya seperti kemampuan fisik atau keberanian. Dalam permainan,
taktik dan strategi adalah elemen penting. Kesadaran taktik dalam memberikan
keuntungan bagi siswa, bahkan yang mempunyai keterampilan yang lebih dibandingkan
yang lain.
Permainan bersifat interaktif. Interaksi muncul dengan rekan
satu tim, lawan, penyelenggara, dan bahkan kadang-kadang penonton. Interaksi
ini mempunyai dampak baik bagi keterampilan dan penampilan bermain.
Permainan diatur oleh peraturan-peraturan. Peraturan tidak
hanya mengatur permainan, tetapi juga menentukan atau menjelaskan
keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memainkan permainan. Kita
seringkali hanya menyadari fungsi regulator dari sebuah peraturan, tetapi
peraturan berfungsi lebih dari itu. Dengan begitu, peraturan permainan tidak
hanya mengatur permainan, dimensi lapangan, ukuran bola, dan lain-lain, tetapi
juga menentukan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memainkan
permainan.
- Kelas Sama Permainan Berbeda
Dalam kelas-kelas pendidikan jasmani, permainan yang sama
seringkali diinterpretasikan dengan berbeda oleh beberapa kelompok anak-anak.
Misalnya saja dalam pelajaran siswa memainkan permainan basket dengan cara yang
berbeda. Di satu lapangan, pemain memulai kembali permainan dari tengah
lapangan, melakukan pelanggaran, dan focus pada operan. Sedangkan di lapangan
lainnya, pemain memulai kembali permainan dari base line, tidak melakukan
pelanggaran, dan focus pada teknik dribel. Sebagai guru olahraga yang mengamati
permainan ini, mengakomodasi sasaran atau tujuan pelajaran, dan kemudian, jika
perlu, kita mengubah atau menambahkan kondisi-kondisi tertentu untuk membantu
para siswa mencapai tujuan pembelajaran.
- Metode Penilaian Formal
Selain metode informal, ada metode formal dalam penilaian,
baik untuk penampilan individual maupun tim, misalnya Game Performance
Assessment Instrument (GPAI) dan Team Sport Assessment Procedure (TSAP).
GPAI terdiri dari tujuh komponen utama, meliputi semua
kategori permainan (invasi, net/wall, striking/fielding, dan target).
Komponen GPAI dalam Permainan Striking/Fielding
a) Base: Kembalinya pemain yang sesuai pada
posisi “home” atau “recovery” antara usaha keterampilan
b) Adjust: Pergerakan pemain, baik ofensif atau
defensif, sesuai jalannya permainan
c) Pengambilan
keputusan : Membuat pilihan
yang tepat tentang apa yang dilakukan terhadap bola selama permainan
d) Eksekusi
keterampilan :Penampilan yang efisien
dari keterampilan yang dipilih
e) Support : Pergerakan off the ball pada
posisis menerima lemparan
f) Cover : Dukungan defensive pada pemain dengan
hati-hati, atau memggerakkan bola
g) Guard/Mark : Menjaga lawan yang memegang atau tidak
memegang bola
Rumus Kalkulasi Variabel Hasil GPAI
a) Keikutsertaan
dalam permainan : (Total
respon yang sesuai) + (jumlah eksekusi keterampilan yang efisien) + (jumlah
eksekusi keterampilan yang tidak efisien) + (jumlah pengambilan keputusan yang
tidak sesuai)
b) Index
pengambilan keputusan/ DMI : (Jumlah
pengambilan keputusan yang sesuai) : (jumlah pengambilan keputusan yang tidak
sesuai)
c) Indeks
eksekusi keterampilan/ SEI :
(Jumlah eksekusi keterampilan yang efisien) : (jumlah eksekusi keterampilan
yang tidak efisien)
d) Indeks
dukungan/SI : (Jumlah gerakan
pendukung yang sesuai) : (jumlah gerakan pendukung yang tidak sesuai)
e) Penampilan
bermain : (DMI + SEI + SI) : 3
TSAP berfokus pada dua aspek fundamental dalam permainan:
(1) Perolehan kepemilikan bola, dan (2) Menempatkan bola segera setelah pemain
menguasai bola.
Komponen-komponen TSAP dalam Permainan
a) Mendapatkan
kepemilikan bola
1) Merebut
bola/CB : Memotong, mencuri bola dari
lawan atau menangkap bola kembali setelah tembakan ke gawang tidak berhasil
atau hampir kalah dari lawan
2) Menerima
bola/RB : Menerima bola dari rekan satu
tim dan tidak kehilangan kontrol bola seketika
b) Menempatkan
bola
1) Memainkan
bola netral/NB : Mengoper bola pada rekan
satu tim, atau operan yang tidak berisiko bagi tim lain
2) Kehilangan
bola/LB : Tim lawan merebut bola tanpa
mencetak gol
3) Memainkan
bola ofensif/OB : Mengoper
bola pada rekan satu tim untuk menekan tim lain
4) Mengeksekusi
tembakan yang sukses/SS : Mencetak
skor atau menjaga kepemilikan bola yang diikuti eksekusi tembakan
Rumus Perhitungan Variabel Hasil TSAP
a) Jumlah
bola yang ditembakkan/AB :
(Jumlah total OB) + (jumlah total SS)
b) Volume
permainan/PB: (Jumlah total CB) + (jumlah total RB)
c) Index
Efisiensi/EI: (CB + AB) : (10 + LB) atau (CB + OB + SS) : (10 + LB)
d) Skor
penampilan/PS: Ditentukan via “nomogram” yang menggunakan skala EI, skala VP,
skala PS
- Rangkuman
Pengukuran formal dikombinasikan dengan pengukuran informal,
memberikan penilaian yang berkelanjutan dan dapat membantu guru dalam
memberikan pesan yang jelas bahwa tujuan dari pengajaran pendidikan jasmani
adalah untuk meningkatkan penampilan bermain siswa. Guru pendidikan jasmani
adalah “arsitek” dari desain pembelajaran. Mereka harus menciptakan permainan
dan penilaian yang terkondisikan yang memacu keterampilan dan kompetensi yang
perlu siswa pelajari agar menjadi pemain permainan yang sukses. Peran penilaian
dalam Pembelajaran Pendekatan Taktik adalah bahwa penilaian memastikan bahwa
siswa dapat mengembangkan kemahiran dan kompetensi serta kepercayaan diri yang
perlu untuk dapat memainkan permainan-permainan yang merupakan pembelajaran
yang berharga dan permainan yang berharga jauh setelah siswa selesai mengikuti
program pendidikan jasmani.
Komentar
Posting Komentar